Ir. Sukarno: Gotong-royong itu Hebat

Pada Pidato 1 Juni 1945 konsep Operasional Pancasila disebutkan:

“Jikalau saya peras yang lima menjadi tiga, dan yang tiga menjadi satu, maka dapatlah saya, satu perkataan Indonesia yang tulen, yaitu perkataan Gotong Royong. Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong-royong!

Gotong-royong adalah paham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan” Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah suatu faham yang statis, tetapi gotong-royong menggambarkan suatu usaha, suatu amal, suatu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekarno satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembanting tulang bersama, pemerasan keringat bersama, perjuangan Bantu-binantu bersama. Amal semua buat semua. Holobis-kontul baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong –royong!

Prinsip Gotong-royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan untuk menjadi bangsa Indonesia. Inilah Saudara-saudara yang saya usulkan kepada Saudara-saudara. Pancasila menjadi Trisila. Trisila menjadi Ekasila.” (Depen-RI, 1945: 26; LPPKB, 2005: 54-55)

Jadi ada tiga variabel yang menjadi pilar kegotong-ropyongan bangsa Indonesia yatu: Gotong-royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya atau dalam konsep operasional sekarang antara kaya dan miskin, Gotong-royong antara yang Islam dan yang Kristen atau antar umat beragama dan Gotong-royong antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan atau pilar kegotong-ropyongan atar suku dan ras yang secara keseluruhan disebut masalah SARA.

Agar bangsa Indonesia menjadi Hebat maka sebagai generasi penerus kita harus segera mengoperasionalkan perilaku Gotong-royong dalam kehidupan nyata. Apabila kita menentukan dari unit-unit mana dimulainya kehidupan Gotong-royong, memakai konsep barat yang sesuai adalah konsep Ivan Illich “Kecil Itu Indah” tentang masyarakat.

Melalui program pembangunan masyarakat /Community Development (Comdev.) dengan tenaga-tenaga pendamping (fasilitator) yang telah dipersiapkan. Yaitu mereka yang telah menguasai tentang NKRI, Bhineka Tunggal Ika, ideologi negara Pancasila, ketrampilan pendampingan masyarakat dll., masyarakat Gotong-royong dapat diharapkan akan segera terwujud dan bangsa Indonesia akan segera terhindar dari ancaman nilai-nilai individualisme, sektarianisme, hedonisme, sadisme, separatisme dll. yang membahayakan persatuan dan kesatuan. Dan pada gilirannya siap dengan kompak “holobis kuntul baris” menghadapi globalisasi.

Bagaimana caranya?

Maka sesuai dengan semangat Otonomi Daerah urutan terkecil dimulai dari RT sebagai unit Gotong-royong terkecil untuk kemudian melalui kader-kader RT membentuk kehidupan Gotong-royong di tingkat RW. Kader-kader RW membentuk kegotong-royongan Desa, kader-kader kelurahan/desa membentuk kegotongroyongan di tingkat Kecamatan dan kader-kader di tingkat Kecamatan membangun pola kegotongroyongan di tingkat Kabupaten/Kota sebagai ujung tombak Otonomi Daerah.

Sebagai ujung tombak Otonomi Daerah artinya Kabupaten/Kota sebagai unit Gotong-royong yang mandiri mempunyai kebebasan berkreasi dan dari sana kegotong-royongan Propinsi sebagai proses koordinasi untuk kemudian menjadi bagian dari unit terbesar Negara Kebangsaan NKRI. Mari dipikirkan bersama untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang gotong-royong!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: